Banner 468x 60

Tuesday, December 2, 2025

Cara Pasang Container Ubuntu Server di Proxmox

Cara Pasang Container Ubuntu Server di Proxmox — Panduan Santai Biar Server Lo Gacor! 🚀

Halo Sobat Ngulik! 👋

Lagi gabut tapi pengen nambah skill IT biar makin keliatan pro? Pas banget! Kali ini kita bakal bedah menyelesaikan cara memasang Container Ubuntu Server di Proxmox .

Buat lo yang baru pertama kali denger kata "Proxmox", santai aja, jangan usah panik. Kita nggak bakal pakai bahasa alien yang bikin pusing. Anggap aja kita lagi nongkrong sambil ngomongin teknologi. Kita bakal bahas dari nol: mulai dari apa itu Proxmox, kenapa container itu game changer banget, sampai tutorial instalasinya yang bisa lo praktekin langsung di lab sekolah, kantor, atau di kamar sambil rebahan.


🤔 Apa Sih Proxmox Itu? Kenapa Hype Banget?

Coba bayangin, lo punya satu PC gahar, tapi pengen dipake buat macem-macem OS sekaligus. Satu buat website portofolio, satu buat database tugas kuliah, satu lagi buat iseng-iseng belajar hacking . Nah, kalau lo install satu-satu, ribet kan? Di dalam Proxmox beraksi!

Proxmox VE (Virtual Environment) itu platform open-source untuk manajemen Virtual Machine (VM) dan Container (LXC). Mirip kayak VMware atau Hyper-V , tapi bedanya... ini GRATIS, Bos! 💸

Kenapa anak IT jaman sekarang demen pake Proxmox?

  • Gratis tapi Rasa Premium: Tidak ada biaya lisensi yang membuat dompet nangis. Fiturnya lengkap banget.

  • Kombinasi Maut VM & Kontainer: Mau virtualisasi penuh (KVM)? Bisa. Mau yang ringan banget (LXC)? Gas!

  • Web UI -nya Kece: Lo bisa atur server cuma modal browser. Bahkan diakses dari HP sambil nongkrong di warkop juga bisa.

  • Anti Hilang Data: Udah ada fitur backup dan snapshot bawaan. Kalau salah config, tinggal rollback . Aman!


🧩 Container (LXC) vs VM: Bedanya Apa Sih?

Sebelum kita instalasi gas, lo wajib tau bedanya Container sama VM biar gak salah pilih. Biar gampang nangkepnya, kita pake analogi Tempat Tinggal .

🏠 Mesin Virtual (VM) = Sewa Satu Rumah Penuh

  • Lo sewa satu rumah lengkap sama dapur, kamar mandi, dan halaman sendiri.

  • Kelebihan: Privasi total, mau ngapain aja bebas.

  • Kekurangan: Mahal dan boros tempat. (Sama kayak VM yang butuh resource RAM & CPU gede karena dia membawa Kernel & OS sendiri).

🛏️ Wadah (LXC) = Nge-Kos

  • Lo cuma sewa satu kamar tidur. Dapur dan kamar mandi (Kernel server) dipake bareng-bareng sama penghuni kos lain.

  • Kelebihan: Murah, irit tempat, dan praktis.

  • Kekurangan: Harus saling memahami berbagi fasilitas umum.

Intinya:

  • VM: Berat, tapi serbaguna banget.

  • Wadah: Ringan, booting secepat kilat (sat-set), dan hemat RAM.

Kalau tujuan lo cuma buat bikin Web Server, Database, DNS, atau sekadar Pi-Hole anti iklan, pilih Container (LXC) aja! Dijamin servernya lo gak bakal ngelag .


☕ Persiapan Sebelum Eksekusi

Sudah paham konsepnya? Oke, sekarang siapin dulu amunisinya biar pas prakteknya gak bingung:

  1. PC Server/Laptop yang sudah terinstall Proxmox VE.

  2. Koneksi Internet (buat download template Ubuntu, kuota dikit aman kok).

  3. Kopi atau Cemilan biar rileks. ☕

Siap buat jadi SysAdmin dadakan? Ayo ke langkah instalasinya! 👇

Sebelum kita langkah memulai-langkahnya, pastikan kamu memiliki alat dan bahan berikut ini:


🖥️ 1. Server atau PC yang Sudah Terinstal Proxmox VE


Bisa bare-metal (langsung diinstal ke server)


Atau dijalankan di dalam VM lain (kalau cuma buat belajar)


Minimal spesifikasi:


CPU 2 inti


RAM 8 GB


Penyimpanan 50 GB


Koneksi internet


Kalau kamu di lab sekolah dengan server Proxmox, biasanya sudah siap semua.

Cek aja lewat browser: https://ip-proxmox:8006


 2. Templat Berkas Ubuntu


Proxmox tidak langsung menyediakan ISO seperti VM.

Untuk container, kami menggunakan template .tar.zst — semacam image mini Ubuntu.


Kamu bisa download langsung dari Proxmox lewat menu GUI.

Atau kalau mau manual, pakai perintah:


pembaruan pveam

pveam tersedia

pveam unduh lokal ubuntu-22.04-standard_22.04-1_amd64.tar.zst


 3. Alamat IP dan Gateway


Pastikan Anda sudah mengetahui jaringan tempat container akan hidup.


Contoh:


Gerbang: 192.168.4.1


Kontainer 1: 192.168.4.150


Kontainer 2: 192.168.4.151


Jaringan masker : 255.255.255.0


Kalau kamu pakai lab Proxmox di sekolah, biasanya tiap kelompok siswa dikasih IP sendiri.

Misalnya:


Kelompok 1 → 192.168.4.150


Kelompok 2 → 192.168.4.151


dst...


⚙️ Langkah-Langkah Instalasi Container Ubuntu di Proxmox


Sekarang kita masuk ke bagian paling menarik! 

Langkah demi langkah yang bisa kamu ikuti dengan santai.


🧩 Langkah 1 — Masuk ke antarmuka Web Proxmox


Buka browser, lalu ketik alamat Proxmox kamu:


https://192.168.4.10:8006










Login pakai:


Pengguna: root@pam


Password: (yang sudah dikonfigurasi)


Jika muncul peringatan SSL tidak aman, tinggal klik “Advanced → Proceed Anyway.”

Santai aja, itu normal kalau belum pakai sertifikat SSL resmi.


 Langkah 2 — Unduh Templat Ubuntu


Masuk ke menu:


Pusat Data → Lokal → Templat CT → Templat




Pilih:


ubuntu-22.04-standard_22.04-1_amd64.tar.zst



Klik Download.


Tunggu beberapa menit, tergantung kecepatan internet.

Sambil nunggu, bisa ngopi dulu ☕ atau ngobrol sama teman satu lab.


Langkah 3 — Membuat Wadah Baru


Setelah template tersedia, klik kanan pada node Proxmox kamu (misalnya pve01) → Buat CT.


Isi form-nya seperti ini:


1. Umum



Simpul: pve01


CT ID : 150 (otomatis diisi)


Nama host: sijaoke


Password: isi sesuka hati


Wadah tanpa hak istimewa : ✅ (aktifkan untuk keamanan tambahan)


2. Templat


Pilih template yang tadi kamu download:



lokal: ubuntu-22.04-standard_22.04-1_amd64.tar.zst


3. Disk Akar



Penyimpanan: lokal-lvm


Disk size: 8 GB (lebih besar)


4. Prosesor



Inti: 2


5. Memori



Memori: 2048 MB


Tukar: 512 MB


6. Jaringan



Jembatan: vmbr0


IPv4: Statistik


Alamat: 192.168.4.140/24


Gerbang: 192.168.4.1


7. DNS


Gunakan pengaturan host: ✅



Klik Finish dan tunggu proses selesai.



🧩 Langkah 4 — Jalankan Kontainer



Setelah container dibuat, klik container kamu di sidebar → klik tombol Start → lalu buka Console.


Kamu akan masuk ke terminal Ubuntu mini !


Coba cek IP:



ip a



Kalau IP sudah sesuai, lanjut cek koneksi:


ping google.com




Kalau bisa ping, berarti container sudah terkoneksi ke internet 🎉.


🧩 Langkah 5 — memperbarui dan mengemas Paket Penting


Sekarang waktunya bikin Ubuntu kamu siap kerja.

Jalankan perintah berikut:



pembaruan apt dan peningkatan apt -y

apt install net-tools curl wget nano sudo -y


🧩 Langkah 6 — Konfigurasi Nama Host dan Pengguna


Biar cepat dan mudah diingat, ubah hostname sesuai nama kelompok:


hostnamectl set-nama host ubuntu-kelompok1



Tambahkan pengguna baru (biar gak pakai root terus):



adduser siswa

usermod -aG sudo siswa



Sekarang kamu bisa login dengan pengguna “siswa”:


su - siswa


🧩 Langkah 7 — Instal Web Server (Opsional menarik tapi)


Biar makin hidup, coba pasang Apache2 dan PHP .



sudo apt install apache2 php libapache2-mod-php -y



Cek apakah web server jalan:


sudo systemctl status apache2



Kalau aktif, buka browser dan kunjungi:


http://192.168.4.140



Harusnya muncul halaman “Berhasil!” khas Apache. 🚀


🧩 Langkah 8 — Tambahkan Database ( MariaDB )


Kalau kamu ingin latihan membuat web dinamis (misal Laravel atau WordPress), kamu bisa menambahkan server database:


sudo apt install mariadb-server -y

sudo systemctl aktifkan mariadb

sudo systemctl mulai mariadb



Lakukan konfigurasi awal:


sudo mysql_secure_installation



Ikuti instruksi di layar:


Tetapkan kata sandi root


Hapus pengguna anonim → Ya


Larang login jarak jauh root → Ya


Hapus pengujian DB → Ya


🧩 Langkah 9 — Atur Akses dan Firewall


Supaya container aman dari “usil tangan”, atur dasar firewall:


sudo ufw izinkan 22/tcp

sudo ufw izinkan 80/tcp

sudo ufw izinkan 443/tcp

sudo ufw aktifkan



Cek statusnya:


sudo ufw status


🧩 Langkah 10 — Snapshot (Mini Cadangan)


Nah ini fitur keren Proxmox!

Kamu bisa membuat snapshot sebelum mengambil lebih banyak.

Kalau nanti rusak, tinggal rollback.


Klik container → tab Snapshots → klik Take Snapshot .

Kasih nama, misal “fresh-install”.


💡 Tips Lanjut: Multi Kontainer dan Database Terpusat


Kalau kamu di lab atau kelas, seru banget kalau tiap kelompok bikin container-nya sendiri.

Misalnya:


Kelompok 1 → server web (192.168.4.150)


Kelompok 2 → server database (192.168.4.151)


Kelompok 3 → server proksi (192.168.4.152)


Kalian bisa belajar arsitektur jaringan sesungguhnya, bukan hanya teori di buku.


Kalau mau lebih keren lagi, kamu bisa membuat satu container khusus sebagai pusat database, dan semua kelompok web server lain mengakses database itu melalui IP tertentu.


Itu tetap seperti sistem perusahaan besar yang memiliki server database sendiri.


🧠 Mengapa Wadah Penting untuk Dunia Pendidikan


Kalau kamu guru atau dosen (halo rekan-rekan pendidik! 👋), container bisa jadi solusi murah meriah untuk:


Lab virtualisasi hemat sumber daya.

Satu server Proxmox bisa menampung puluhan container siswa.


Praktik langsung sistem jaringan dan keamanan.

Siswa bisa berlatih DNS, firewall, proxy, VPN, SSL , dan lain-lain.


Tidak perlu re-install ulang.

Tinggal stop-start, atau reset snapshot.


Bahkan bisa dijadikan contoh sistem latihan etika hacking lokal tanpa risiko merusak sistem utama.


🔧 Pemecahan Masalah Umum

1. Tidak Bisa Ping ke Internet


Cek:


Bridge sudah benar (vmbr0)


Gateway diisi sesuai jaringan (192.168.4.1)


Pastikan DNS aktif (cat /etc/resolv.conf)


2. Template Tidak Bisa Diunduh


Gunakan perintah manual:


pembaruan pveam

pveam tersedia

pveam unduh lokal ubuntu-22.04-standard_22.04-1_amd64.tar.zst


3. Container Tidak Bisa Start


Biasanya karena disk penuh atau konfigurasi rusak.

Coba:


daftar persen

persen mulai 150

jurnalctl -xe


4. IP Ganda


Kalau di lab, pastikan setiap container menggunakan IP unik.

Gunakan spreadsheet pembagian IP agar tidak terjadi tabrakan.


Mengapa Belajar Wadah Itu Penting?


Zaman dulu, kalau mau belajar server, kita harus membeli banyak komputer.

Sekarang cukup satu server Proxmox, bisa jalan 10–20 container Ubuntu dengan ringan.


Wadah bukan hanya alat belajar, tapi fondasi dunia DevOps, Cloud Computing , dan Microservices modern.

Perusahaan besar seperti Google, Netflix, hingga Tokopedia , semua berawal dari konsep container dan orkestrator seperti Docker atau Kubernetes .

0 comments:

Post a Comment